Ciput & kerudung

  • Ceritanya janjian ketemu sama ibu di Zoya, mau nemenin nyari kerudung buat dipake beliau Umrah nanti..
  • Ibu: Ini yang namanya ciput ninja itu ya?
  • Saya: Iya..
  • Ibu: Jadi pake ini dulu terus baru pake kerudung yang warna warni nya gitu ya? Kalo ga usah pake yang warna warni nya itu gimana?
  • Saya: .......

Pilpres 2014

Tenang sodara-sodara, ini bukan kampanye atau promosi.

Sesungguhnya saya hanya ingin curhat soal pandangan saya terhadap pilpres tahun ini. Entah ya, saya merasa sebenarnya mau pilih yang mana juga ga ada bedanya. Dalam artian begini, kita nggak bisa tau masa depan. Siapa tau aja kan sebenarnya si capres yang kita rasa lebih baik ternyata hanya pencitraan, aslinya malah lebih bobrok dari capres lainnya. We’ll never know.

Yang lucu dari pemilu di Indonesia adalah, media di sini seringkali menghubung2kan dengan hal yang menurut saya lain konteks. Misal nih, bacaan solat. Wajar sih kalo kita inginnya pemimpin yang bisa beribadah dengan baik, tapi kalo konteksnya untuk memimpin sebuah negara kok kayaknya agak2 jaka sembung. Terus ada lagi media yang kait2in sama kondisi keluarga. Rasa2nya kok nggak nyambung juga gitu. -_-

Saya sih jujur saja nggak terlalu percaya sama media. Saya nggak mau milih presiden hanya berdasarkan berita yang beredar tanpa sumber yang jelas. Tapi untuk mengetahui fakta sebenarnya juga saya agak2 malas. Makanya, saya sih lebih cenderung mengikuti tokoh2 yang saya hormati memilih siapa. Bisa dibilang saya ini apatis soal negara, makanya saya mengikut orang yang saya rasa baik saja, terlepas dari bacaan solatnya bener-nggak atau keluarganya utuh-nggak. Tapi saya memperhitungkan track-record bisnis para capres. Bukan masalah kemampuan manajerial, tapi lebih ke probabilitas akan terjadinya korupsi. Ketika kita punya hutang banyak, cobaan akan terasa lebih berat. Itu aja sih. Psikologi manusia.

Manga: Koibito Play

Yahooooo.. Setelah sekian lama tidak update blog, akhirnya saya nongol lagi dengan topik yang sangat random. Kali ini saya ingin membahas suatu manga yang saya unduh secara random dan baru saja selesai saya baca.

Judul manga tersebut adalah Koibito Play karya Tamaoki Benkyo.

Saya menemukan manga ini ketika sedang mencari referensi manga ber-genre tertentu di mangafox. Berikut adalah ulasan singkat yang tertulis di sana:
"Okuno is a girl who is pleased only by BSDM. One day she meets Saeki, a normal guy, and they fall in love. Their love is normal but true, and maybe is the only way to forget all the bad and dangerous experiences of the past.

Singkat, simpel, dan jelas ditujukan untuk pembaca dewasa. Pada sampul depan tergambar sang tokoh utama yaitu Okuno, seorang mahasiswi berambut pendek lucu dengan kaus biru dan anting yang sangat banyak di telinganya. Saya kira ini akan menjadi komik romansa dewasa yang agak ‘gelap’, dan ternyata perkiraan saya tidak meleset jauh. Jadi kalau kamu masih berusia dibawah 20 tahun atau kurang suka cerita yang kompleks, lebih baik urungkan niatmu membaca manga ini.

Gaya gambar manga ini cukup vulgar. Vulgar tanpa sensor, tapi tidak terlalu ‘wah’ juga. Seperti gambar di buku pelajaran Biologi. Apa adanya. Biasa.

Dari segi cerita, menurut saya manga ini kurang oke. Sebenarnya inti ceritanya bagus. Bagus sekali. Mengandung banyak emosi dan ekspresi. Tapi mungkin karena terlalu banyak emosi dan ekspresi yang ingin diungkapkan sang mangaka, manga ini kurang terasa impactnya. Kompleksitas cerita sudah muncul sejak awal, sehingga alur cerita terasa monoton. Apalagi ditambah dengan endingnya yang sebenarnya manis, tapi kurang baik pembawaan ceritanya sehingga terasa hambar. Tapi harus saya akui, endingnya membuat saya kepo sama kelanjutan cerita mereka.

.

.

.

Dan saya jadi berpikir, apakah saya lanjutkan saja posting2 mengenai review manga dewasa seperti ini secara rutin ya? Hahaha… Tapi kayaknya sih mostly bakal bahas manga yaoi.. =w= #plak

About this semester

Semester ini agak berbeda dari semester2 sebelumnya. Sebagai mahasiswa ngulang, rasanya saya jadi lebih dekat sama adek2 angkatan ketimbang sama angkatan sendiri. Emang sih angkatan saya yang ngulang udah tinggal 1-2 orang doang di kelasnya, tapi tetep aja nggak terlalu deket.

Sampai kadang kalo ketemu sobat lain prodi, terus ditanya “Gimana kabarnya si (menyebut nama salah satu sobat saya)?” saya bingung menjawabnya.
Biasanya saya jawab, “Kurang tau juga sih, udah jarang ketemu. Cuma bareng di satu makul aja soalnya, itu juga jarang ngobrol..”Lantas biasanya ditanya lagi, “Kenapa? Lagi berantem?”
Yaaaaaaa gak berantem juga sih sebenernya, emang gak ada event nya aja kali. Dan saya akan bilang begini: “Kamu tau kan kalo hubungan tiga orang itu tidak seimbang?”

Gak tau juga sih ya apa saya yang terlalu sensitif apa gimana, tapi belakangan saya lebih sering menarik diri dari hubungan orang-orang. Sebenernya pengen ngobrol, pengen cerita-cerita, tapi kalo ada orang lain kan rasanya malas juga. Mungkin semacam posesif sama sobat, jadi kalo ga bisa memiliki seutuhnya mending ga usah sama sekali. Rada creepy sih kalo dibayangin, mengingat dua-duanya cewek.. ==”

Niat awalnya sih ya cuma begitu itu, karena hubungan tiga orang itu biasanya tidak stabil. Tapi lama-lama kesepian juga. Untung beberapa adek angkatan ada yang ngambil kuliahnya banyak bareng sama saya jadi kita suka SMSan. Ngomongin tugas, ujian, belajar bareng, sampe akhirnya malah curcol. Tapi ya itu, yang diomongin ya urusan kuliah juga. Kadang jadi rindu kehidupan biasa. Maksudnya, aspek kehidupan non-akademik non-bisnis.

Malah karena semester ini tumben-tumbenan niat kuliah, sama pacar juga kejadiannya begitu. Dianya lagi banyak praktikum, TP, laporan, dll, sayanya juga banyak tugas kuliah. Sekalinya ketemu, tutor LM demi lulus di Sabuga. Kalo gak tutor LM, cari duit.
Maka ketika dia kemarin nonton The Raid 2 dengan teman-teman unit kami, sejujurnya saya merasa iri. Saya kurang suka film genre begitu, lagipula tugas saya menumpuk dan saya lebih suka tidur teratur daripada begadang gara2 nugas, tapi saya pengen jalan-jalan. Lebih tepatnya saya pengen menghabiskan waktu berdua untuk ngobrol. That’s what I called quality time.

Dan nggak cuma sama pacar ya, sama sobat yang lain juga. Buat saya pacar itu sama aja seperti sobat, cuma mungkin sobat terdekat karena lebih banyak menghabiskan waktu bersama.

Tapi mungkin sebaiknya kita kembali kepada realita, dengan tugas numpuk dari dosen yang sepertinya pada ga rela Senin libur, hal-hal itu harus ditahan dulu. Tuhan pasti akan berikan waktu terbaik untuk saya bisa bercengkrama lagi dengan sobat-sobat tercinta… =w=

kurniawangunadi

fanzahul asked:

Bang zarry, menurutmu benarkah pernyataan ini? "Pendekatan instan, pacaran pun akan instan." Karena aku merasa pernyataan itu ada benarnya.

zarryhendrik-deactivated2014041 answered:

Sebenarnya pacaran itu adalah juga pendekatan. Jika kamu merasa pacaran adalah suatu hubungan yang berkomitmen, kamu hanya tertipu oleh anggapan umum. Pacaran adalah sesuatu yang sakral bagi orang-orang yang ingin berpasangan, tetapi tidak atau belum berani menikah. Sadarilah bahwa pacaran itu bukan suatu hubungan berpasangan yang sah, tidak diakui agama, bahkan pemerintah. Maka saranku, sesuai pemikiranku, terserah jika kamu ingin berpacaran untuk mencari keseruan. Tetapi mencari penghormatan cinta dengan berpacaran, mungkin kamu terlalu serius. Jika ingin serius, jangan tanggung-tanggung,  menikahlah. Tetapi jika belum siap menikah, kamu tak perlu repot-repot berpacaran. 

Pada akhirnya, cinta tidak hanya membutuhkan perasaan, melainkan kesiapan. Suatu hubungan membutuhkan keduanya. Dan pacaran adalah hubungan yang mengada-ada, tempat orang-orang yang belum siap, tetapi secara emosional ingin memiliki. Maka dari itu kuberitahu kamu, jika  seseorang menyayangimu, pastikan ia tulus dan bertujuan. 

kali ini banyak sepakat sama Bang Zarry, sudut pandang yang bagus :D

Setuju. Pacaran itu pendekatan.

Yah minimal buat saya sih untuk ngetes diri sendiri beneran udah siap atau cuma kebawa emosi sesaat. Ketika sudah yakin bukan terbawa emosi sesaat, baru deh ketemuin sama orang tua. Karena walaupun nikah itu ga butuh ijazah S1, ataupun yang ribet-ribet, faktanya pernikahan itu nggak hanya melibatkan 2 orang atau 2 keluarga kecil itu saja tetapi 2 buah keluarga besar. Tentu saja persiapannya pun tidak bisa instan.

Dan kalau orang tua sudah menasehati untuk lulus dulu karena berkeluarga sambil ngerjain TA itu berat, kenapa harus nggak nurut? Mereka sudah pernah muda, kita belum pernah tua. Hihi… :p

Well...

  • Le me: Eh, nanti minggu kan aku jadi MC Mega HOM sama si Bocil, kalo baju bokap gue muat di dia kita mau pake batik kembaran gitu, gapapa ya?
  • Le pacar: .................................. ga rela sih, tapi ya udahlah..
  • Le me: Jangan emo ya..
  • Le pacar: Emo sih pasti nanti, mengingat hampir semuanya ngira pacarmu itu dia, bukannya aku... =____=
  • .
  • .
  • .
  • *beberapa saat kemudian*
  • Le me: Oh ya ngomong2 aku diajak kencan lagi..
  • Le pacar: Sama siapa?
  • Le me: Si papah...
  • Le pacar: *sigh* Susah ya punya pacar sobatnya cowok semua..
  • .
  • .
  • .
  • Semangat ya, beruang peluk!!